Jika kamu tidak bisa mendapat apa yang kamu suka, maka sukailah apa yang kamu dapat. Hal ini dipahami betul oleh Ni Wayan Miranti Pusparini, profil Wiweka bulan ini. Cewek yang akrab disapa Ranti ini mengaku sempat mengalami kebimbangan saat memutuskan jalur pendidikannya. Maklum saja, hal itu akan menentukan masa depannya dan itu menurutnya adalah pertimbangan yang berat. Jujur, ketua UKKH Universitas Surabaya ini mengaku bahwa jurusan Akuntansi yang ditekuninya saat ini bukanlah pilihan utamanya. Namun, ketimbang banting setir, Ranti lebih memilih menekuni bidangnya tersebut. Hasilnya, sekarang ia sudah bisa menikmati kuliahnya, bahkan punya cita-cita luhur saat sudah lulus nanti.
Yap, itu memang salah satu sikap Ranti. Menurutnya, penting untuk memiliki target, namun saat target tersebut tidak tercapai, tetaplah lakukan yang terbaik. Pasti akan ada jalan lagi. Ini ia buktikan setelah ia menjalani kuliahnya dengan serius. Apakah ia pernah merasa tidak nyaman? “Awalnya memang iya. Tapi, aku bersyukur karena aku termasuk pribadi yang gampang bersosialisasi dan tidak susah membaur dengan rekan lain.”, sahutnya. Lambat laun, ia pun mantap menjalani kuliah. Sampai akhirnya, di sinilah dia menemukan cita-citanya. “Aku ingin menjadi akuntan publik.”, kata gadis kelahiran Mataram ini. Ia mulai mengagumi profesi itu semenjak kunjungannya ke Jakarta dalam event studi banding oleh kampusnya beberapa waktu lalu. Dari situ, ia bertekad akan menjalani profesi itu sebaik-baiknya kelak. IPK di atas 3.00 pun dipatok sebagai target pribadinya menjalani kuliah. Jadi jelas, baginya kuliah adalah prioritas utama sekaligus investasi jangka panjang.
Namun jangan keburu salah menilai. Walaupun menjadikan kuliah sebagai prioritas tertinggi, tidak berarti Ranti alergi dengan yang namanya organisasi. Tidak tanggung-tanggung, saat ini dia bahkan sedang menjabat sebagai ketua UKKH Ubaya periode 2008/2009.
Menurutnya, mahasiswa yang baik harus bisa menyelaraskan antara kuliah dengan kegiatan di luar. Katanya, “Tidak usah berlebihan sampai mengganggu tugas utama, namun tidak juga berarti nol alias tidak ada sama sekali.”
Bagi Ranti, ini adalah periode keduanya terpilih sebagai pengurus inti UKKH Ubaya. Pada periode sebelumnya, ia sudah pernah menempati pos bendahara. Lantas kenapa ia mau terpilih lagi, bahkan menempati kursi ketua? Selain keinginan untuk menyumbang sesuatu bagi UKKH, ini juga dimaksudkan agar angkatan baru, yaitu 2007 dan 2008, dapat “bernafas” sejenak sebelum terjun menempati pengurus inti di UKKH. Alhasil, ia kemudian didaulat oleh rekan-rekannya saat pemilihan ketua di bulan Juni 2008 lalu.
Setelah menduduki posisi ketua selama hampir satu semester, ia mengaku hambatan terbesarnya adalah sedikitnya anggota yang aktif. Maklum saja, jumlah mahasiswa baru Hindu Ubaya memang mengalami penurunan. Itu belum ditambah dengan susahnya mengumpulkan semua anggota saat ada suatu kegiatan. Sungguh suatu masalah klasik yang hampir terjadi di setiap organisasi. Untuk mengatasinya, Ranti tidak kekurangan akal. Ia pun membuat program-program kerja yang sekiranya dapat menjaring atensi anggota. Contohnya Tirta Yatra ke daerah-daerah seperti Yogyakarta dan Semarang ataupun kegiatan Upanayana yang dilangsungkan di Bongso Wetan dan Bongso Kulon saat melantik anggota baru UKKH Ubaya lalu. Bersyukurlah ia karena kegiatan-kegiatan itu cukup sukses. Apalagi dukungan dari pihak kampus setia mengalir. Ranti pun optimis ia bersama UKKH Ubaya dapat melaksanakan program kerja yang lebih besar lagi, yaitu seminar umum se-Surabaya. Semoga terlaksana!(mei)
Virginitas dan Harga Diri
Ditanya mengenai arti virginitas, Ranti mencoba bersikap diplomatis. Ia berpendapat bahwa virginitas lebih kepada pikiran kita. “Suatu hubungan yang menimbulkan kondisi di mana kita merasa bersalah adalah ambang batas virginitas kita.”, jelas Ranti. Setiap orang tentu memiliki pemahaman yang berbeda. Yang jelas, menurutnya virginitas itu wajib dijaga karena hal itu terkait dengan harga diri dan kepercayaan diri.
Terkait masalah virginitas yang seolah makin terlupakan, ia melihatnya sebagai akibat dari kurang kuatnya norma-norma yang ada dalam mengontrol perilaku tersebut.
Sebagai penangkal, Ranti coba menawarkan solusi. “Seminar-seminar mengenai virginitas maupun kewanitaan mesti digalakkan. Hal ini bertujuan memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat, utamanya generasi muda.”, ucapnya serius. Tambahan lagi, ia juga menyinggung masalah pendidikan seks, baik formal maupun informal, yang selama ini terkesan kurang digarap dengan baik.(mei)
Biodata
Nama : Ni Wayan Miranti Pusparini
Nama Panggilan : Ranti
TTL : Mataram, 22 Agustus 1986
Riwayat Pendidikan :
- TK Don Boscho Cakranegara
- SDN Inti 1 Palu
- SDK Aletheia Ampenan
- SMPN 2 Mataram
- SMAN 1 Mataram
- Akuntansi Ubaya
Pengalaman Organisasi :
- Bendahara UKKH Ubaya 2007/2099
- Ketua UKKH Ubaya 2008/2009
Hobi : Nonton, tidur, dan jalan-jalan
Cita-Cita dan Ketekunan
Kategori: ProfilSinkronisasi Kuliah dan Organisasi
Kategori: Profil
Senang dan puas, dua kata itu yang dapat menggambarkan perasaan I Putu Wisnu Merthayoga saat dirinya terpilih sebagai Presidium Pusat KMHDI untuk periode 2008-2010. Wajar karena itu adalah salah satu target pribadinya. Tapi, ketimbang disebut mengambil keuntungan dari organisasi, pria kelahiran Singaraja ini lebih suka menyebut posisinya sekarang sebuah pengabdian.
Kendati dikatakan mengabdi, bukan berarti ia tidak mendapat keuntungan dari kiprahnya selama ini. Mahasiswa Teknik Elektro tingkat akhir di ITS ini mengaku banyak terbantu oleh pengalamannya mengurusi beberapa organisasi. Salah satu hal yang jelas disampaikannya pada Wiweka adalah mengikuti organisasi sambil kuliah, walaupun tidak mudah, namun juga tidak mustahil.
W(Wiweka) : Selamat atas terpilihnya Anda sebagai Presidium.
Ws(Wisnu) : Terima kasih.
W : Apa yang memotivasi Anda untuk menjadi presidium?
Ws : Saya melihat organisasi ini sedang berada pada tahap membangun sistemnya sehingga saya merasa terpanggil untuk menyumbangkan tenaga dan pemikiran-pemikiran saya.
W : Tanggung jawab Anda tentu akan lebih besar. Anda pikir Anda siap untuk itu?
Ws : Saya sebenarnya belum siap. Dalam artian, untuk tingkat Pengurus Pusat saya belum memiliki pemahaman yang dalam. Namun KMHDI bagi saya adalah ruang untuk belajar dan saya siap belajar cepat dalam ruang lingkup baru, dalam hal ini nasional.
W : Apa kira-kira kelebihan Anda dibanding kader-kader KMHDI yang lain?
Ws : Saya akui jam terbang saya masih kurang, baru sekitar tiga tahun saya bergabung disini. Namun saya mau dan mampu belajar untuk mengemban tanggung jawab itu. Saya siap bekerja keras demi organisasi, baik dalam hal pikiran, tenaga, idealisme, maupun loyalitas.
W : Anda pernah menjabat sebagai Ketua PC KMHDI Surabaya. Apakah itu akan membantu kerja Anda sekarang?
Ws : Ya tentu saja. Banyak ilmu yang saya dapat, dan bagusnya dapat saya terapkan langsung, semasa menjabat sebagai Ketua PC KMHDI Surabaya, seperti disiplin keorganisasian, manajemen SDM, manajemen konflik, kemampuan untuk membina kader, hingga bagaimana membangun jaringan.
Prospek KMHDI W : Bagaimana Anda melihat kiprah KMHDI selama ini secara nasional?
Ws : KMHDI cukup dikenal karena KMHDI membina hubungan baik dengan banyak organisasi pemuda, pemerintah, dan aparatur negara. KMHDI tidak hanya berbicara di ranah keumatan tapi juga kebangsaan. Itu yang dikenal dengan Dharma Agama dan Dharma Negara KMHDI.
W : Apa kekurangan KMHDI secara umum yang Anda pikir Anda dan pengurus Anda dapat perbaiki?
Ws : Sebagai organisasi yang masih relatif muda, KMHDI tentu memiliki banyak kekurangan. Salah satu yang saya lihat adalah kurang terkoordinirnya kinerja di internal pengurus sendiri. Kami akan mencoba memperbaiki hal itu.
W : Kemana fokus utama KMHDI saat ini?
Ws : Fokus saya letakkan pada kaderisasi kader. Usia KMHDI ini masih sangat muda, jadi saya pikir hal yang bisa dilakukan adalah investasi melalui kaderisasi. Harapannya, suatu saat KMHDI dapat menjadi organisasi yang lebih besar lagi dengan sokongan kader-kader itu.
W : Lantas, apa yang bisa ditawarkan KMHDI pada mahasiswa Hindu?
Ws : Banyak hal bisa didapat disini, seperti yang telah saya sebutkan yaitu pendidikan organisasi dan juga jaringan nasional.
W : Apakah menurut Anda hal tersebut sudah dapat menarik minat mahasiswa Hindu?
Ws : Saya yakin sepenuhnya, apabila mahasiswa Hindu tahu manfaat dari organisasi KMHDI ini, mereka akan tertarik. Nah, masalahnya saya pikir ada pada ketidaktahuan mereka, tentang manfaat organisasi itu sendiri. Hal ini terutama saya lihat terjadi di Surabaya. Masih banyak mahasiswa Hindu yang menganggap organisasi itu hanya membebani tanpa memberikan manfaat yang berarti.
Kuliah dan Organisasi W : Kalau bagi Anda secara pribadi, apa manfaat yang diberikan organisasi ini?
Ws : Sangat banyak. Karakter diri, soft skill keorganisasian, jaringan yang meluas, dan lain-lain. Yang pasti, KMHDI ikut membentuk jati diri saya hingga seperti sekarang.
W : Apakah Anda tidak merasa kuliah Anda terganggu dengan kegiatan-kegiatan organisasi tersebut?
Ws : Tidak. Sebenarnya waktu belajar dan ber-organisasi bisa diatur. Apalagi saya lihat, justru banyak orang sukses di Indonesia memiliki latar belakang organisasi yang bagus. Jadi tidak ada alasan bahwa kuliah dan organisasi tidak bisa berjalan bersama.
W : Pernahkah Anda merasa jenuh berorganisasi?
Ws : Tentu pernah. Sering pada saat kesibukan studi menumpuk dan kondisi organisasi tidak kondusif, saya merasa lelah sendiri.
W : Apa yang Anda lakukan untuk menyiasatinya?
Ws : Membuat prioritas. Saya kerjakan dulu beberapa tugas studi. Di organisasi sendiri, saya melakukan manajemen kerja dengan cara pendelegasian tugas kepada rekan-rekan yang lain. Sehingga ketika kesibukan studi saya selesai, saya bisa kembali lagi ke organisasi. Itu, bagi saya, juga merupakan implementasi dari ilmu organisasi. Disanalah letak seninya.
W : Terakhir ada pesan yang ingin disampaikan?
Ws : Bagi seluruh mahasiswa Hindu, terutama mahasiswa baru, sayang sekali kalau kehidupan sebagai mahasiswa hanya dihabiskan untuk kuliah. Ada hal lain yang pasti akan berguna untuk kehidupan selanjutnya, baik dalam berkarir maupun bermasyarakat, yakni berorganisasi.
Biodata
Nama Lengkap : I Putu Wisnu Merthayoga
Nama Panggilan : Wisnu
TTL : Singaraja, 31 Januari 1986
Riwayat Pendidikan :
SDN Lateng 2 Banyuwangi
SMP N 1 Banyuwangi
SMA N 3 Denpasar
Teknik Elektro ITS
Pengalaman Organisasi :
Anggota Himatektro
Ketua PC KMHDI Surabaya 2005/2007
Presidium PP KMHDI 2008/2010
Hobby : Travelling dan berorganisasi
Everything is Under Control
Kategori: Profil
Apa yang bisa diperbuat kepengurusan bila waktu yang ada hanya delapan bulan saja? Itu pun belum dipotong liburan akademis. Well, jika pertanyaan tersebut dilontarkan pada ketua UKMKHD UNAIR yang sekarang, Ida Ayu Paramitaswari, jawabannya adalah banyak kok.
Gadis manis yang sering dipanggil Mizae ini bahkan telah memulai gebrakannya. Hanya berselang sebulan lebih dari saat kepengurusannya terbentuk, UKMKHD UNAIR sudah berhasil menghelat U2 Cup Season II pertengahan Mei kemarin.
Mahasiswi Sastra Inggris UNAIR ini menegaskan bahwa U2 Cup adalah awal dari serangkaian kegiatan yang sudah dicanangkannya. Selain meneruskan program-program kerja kepengurusan terdahulu, ia juga menjanjikan akan ada kegiatan baru lagi. Mizae optimis, dengan bantuan rekan-rekannya, semua kegiatan tersebut dapat terealisasi. Wah, kayaknya dalam hal semangat, bajang yang hobi menari ini patut ditiru deh. Yuk, kita mengenal Mizae lebih dalam.
W(iweka) : Om Swastyastu. Mizae, apa saja kegiatannya sekarang?
M(izae) : Om Swastyastu. Sekarang lagi kuliah, ngurus UKM, dan kadang nari dimana-mana.
W : Bisa diatur dengan baik antara kuliah dan organisasi?
M : Astungkara, sampai saat ini everything is under control. Hehe..
W : Ada manfaatnya ga semua kegiatanmu itu? Atau justru malah merugikan?
M : Semua pasti ada hal positif dan negatifnya. Buat saya, semua yang sedang saya jalani sekarang adalah yang terbaik dan akan memberikan sesuatu yang berguna nantinya untuk saya.
W : Selama ini, bagaimana rasanya menjabat sebagai ketua UKMKHD UNAIR?
M : Asyik-asyik aja. Teman-teman pengurus juga bisa diajak bekerja sama.
W : Apakah UKMKHD berjalan dengan baik?
M : Astungkara, sangat baik. Para anggota selalu aktif dan antusias kalau ada kegiatan.
W : Selama ini, siapa saja yang mendukung kegiatan UKMKHD UNAIR?
M : Kami memiliki dua orang pembina dari dosen tetap UNAIR yang beragama Hindu. Pembina 1, Ibu Made Sukartini, dan Pembina 2, IGNA Satrya W. Kakak-kakak angkatan juga selalu membina kami. Terus, tentu saja dukungan besar datang dari anggota UKMKHD UNAIR. Lalu yang paling utama adalah dari Ida Sang Hyang Widhi. Oh ya, Rektorat dan UKM lain juga sangat mendukung kegiatan-kegiatan kami.
W : Kemarin kalian baru mengadakan U2 Cup. Bagaimana pelaksanaannya?
M : Dari segi panitia TOP. Teman-teman berkoordinasi dengan sangat baik. Dari segi peserta pun saya lihat sangat bersemangat. Untuk keseluruhan, kegiatan ini dapat dibilang sukses. Yang paling penting, tujuan kami mengadakan acara ini, yaitu menciptakan hubungan yang baik antar UKKH di Surabaya, dapat tercapai.
W : Ada hal yang harus dibenahi?
M : Pasti ada aja yang salah. Kalau kemarin, misscommunication yang paling sering terjadi. Namun kami senang karena teman-teman peserta juga memberi masukan. Semoga pelaksanaannya tahun depan bisa lebih baik.
W : Selain U2 Cup, apalagi program yang menjadi unggulan UKMKHD UNAIR?
M : Kami punya program kerja-program kerja unggulan. U2 Cup, Penerimaan Anggota Baru, Tirta Yatra, dan Baksos. Tahun ini saya juga memasukkan satu program kerja baru lagi yakni lomba kerohanian antar pelajar se-Surabaya dimana kami rencananya mengundang anak-anak SMP dan SMA serta teman-teman UKKH untuk berpartisipasi. Astungkara dapat terealisasi. Kendati pun di UNAIR sekarang ini sedang ada perombakan, yang menyebabkan masa kepengurusan semua organisasi di UNAIR diperpendek, saya percaya kepengurusan sekarang mampu melakukan itu semua.
About Global Warming
W : Dunia sedang khawatir dengan masalah global warming. Menurutmu, apa yang patut diperhatikan?
M : Kelakuan masyarakatnya. Bagaimana caranya menyadarkan masyarakat untuk ikut berperan walaupun cuma hal kecil.
W : Kalau kamu lihat, apa sudah ada usaha untuk itu?
M : Saya rasa sudah. Hanya saja prakteknya masih kurang. Saya lihat banyak billboard, iklan radio, dan spanduk tentang global warming dipublikasikan untuk memberi peringatan pada masyarakat. Pemerintah harus lebih tegas lagi dalam menindak kasus-kasus illegal logging dan hal-hal lain yang berhubungan dengan global warming.
W : Secara spesifik, apa yang dapat dilakukan mahasiswa dalam hal ini?
M : Bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya, buat halaman rumah jadi adem, kan kita juga jadi adem, hehe.. Saling mengingatkan juga lah sesama teman masalah memelihara lingkungan.
W : Ok, makasi Miz. Terakhir, ada pesan buat pembaca?
M : Apa ya? Ayam paha 1, nasi, tempe, jangan lupa es tehnya, hehe.. Nggak, becanda. Yuk, kita lestarikan budaya Hindu dan menjaga hubungan baik antar sesama umat. Buat mahasiswa Hindu, ayo dong berkreativitas, hohoho... Suksma.
Biodata :
Nama Lengkap : Ida Ayu Agung Paramitaswari
Nama Panggilan : Mizae
TTL : Tabanan, 16 Juli 1988
Riwayat Pendidikan :
TK Saraswati Tabanan
SD Saraswati 5 Depasar
SMP N 1 Denpasar
SMA N 1 Denpasar
UNAIR Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Inggris 2006
Pengalaman Organisasi :
OSIS SMA N 1 Denpasar
Bendahara Teater Angin
Swastika Taruna
Ketua UKMKHD UNAIR periode 2008
Hobby : Baca buku, travelling, dancing
Pemuda Sebagai Penjaga Budaya
Kategori: Profil
Kuliah boleh di teknik. Namun jiwa seni yang dimiliki I Made Indra Wijaya tetap mengalir. Lihat saja dari hobinya yang lekat dengan dunia desain dan fotografi, seni banget kan? Pantaslah kalau pria yang akrab disapa Indro oleh rekan-rekannya, juga mengetuai Divisi Artwork di Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro ITS, tempatnya berkuliah sejak tiga tahun yang lalu.
Kecintaannya pada tanah kelahirannya juga patut dicontoh. Salah satunya ditunjukkan melalui pengabdiannya di organisasi Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bali Swastika Taruna yang sangat kental dengan budaya Bali. Tak tanggung-tanggung, pria brewok ini sekarang menjabat sebagai Ketua Swastika Taruna periode 2007-2008. Melalui organisasi ini, ia ingin membangkitkan geliat budaya Bali di luar Bali dengan merangkul komponen pelajar dan mahasiswa.
Momen 100 tahun kebangkitan nasional juga tak luput dari perhatiannya lho. Malah ia punya kritik khusus bagi pemuda Bali yang dirasanya belum memaknai betul arti kebangkitan nasional tersebut. Apa itu? Simak petikan wawancara eksklusif Wiweka berikut ini.
W(iweka) : Apa yang memotivasi Anda menjadi Ketua Swastika?
I(ndra) : Untuk mengembangkan diri di kancah organisasi dan membesarkan Swatika Taruna. Saya rasa organisasi ini belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Masih banyak rekan-rekan saya yang bertanya apa itu Swastika Taruna. Saya ingin membuatnya lebih populer sebab saya lihat organisasi ini sebenarnya sangat bagus.
W : Bagaimana rasanya setelah terjun langsung di organisasi ini sebagai ketua?
I : Berat, itu pasti. Tapi saya menganggap ini adalah salah satu proses pembelajaran. Saya percaya bahwa dengan menjalani ini, saya akan menjadi lebih matang lagi.
W : Seberapa berbedakah organisasi ini dengan organisasi lain yang pernah Anda ikuti?
I : Berbeda tentu saja. Swastika Taruna ini menitikberatkan pada ikatan kekeluargaan, bukan pada ikatan kerja. Dalam artian, pengikat kami disini adalah hubungan secara emosional dengan Bali, jadi dalam organisasi lebih banyak dilakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat kekeluargaan.
W : Bagaimana Anda melihat kinerja kepengurusan Anda?
I : Sampai saat ini masih cukup baik. Saya dapat simpulkan itu dari intensitas kedatangan mereka, baik saat rapat maupun kegiatan. Kerja sama sudah mulai terjalin cukup baik antar pengurus.
W : Dukungan dari anggota dan organisasi lainnya bagaimana?
I : Mereka sangat mendukung. Hal ini terlihat dari kedatangan dan partisipasi mereka dalam acara-acara yang digelar oleh Swastika Taruna. Saya harapkan ke depannya hal itu akan bertahan.
W : Apa fokus Anda selama setahun kepengurusan Anda?
I : Saya berencana untuk membangun Swastika Taruna ini dari dasar. Fondasi organisasi ini harus kuat. Maksudnya, struktur-struktur yang ada harus jelas. Kita tidak lagi bisa menjalankan suatu organisasi tanpa kejelasan struktur. Sebelumnya, saya melihat hal ini tidak mendapat perhatian khusus. Ke depannya saya akan coba garap hal tersebut.
W : Latihan beleganjur merupakan langkah revolusioner. Bagaimana Anda melihat prospeknya?
I : Bagus, sangat bagus. Kegiatan ini sebenarnya bermula dari diskusi dengan teman-teman di UKKH Surabaya. Kami merasa sayang melihat sarana gong yang ada di Pura Kenjeran tidak digunakan secara maksimal. Dari situ muncul wacana untuk mengadakan latihan beleganjur bagi mahasiswa dan pelajar. Saya sempat mengadakan survey secara informal dan ternyata respon mereka cukup positif. Apalagi kami juga mendapat dukungan dari sisi pelatih. Kegiatan pertama kemarin berlangsung sukses dan saya pikir kegiatan ini akan saya lanjutkan terus karena peminatnya sendiri cukup banyak.
W : Anda punya terobosan-terobosan lain?
I : Untuk waktu dekat ini, kami akan mencoba konsep bazar gabungan dengan organisasi lain, seperti PC KMHDI Surabaya. Sementara itu, program kerja yang dilaksanakan oleh kepengurusan sebelumnya masih akan kami jalankan, seperti Swastika Cup dan Gebyar Swastika.
W : Swastika selalu mengklaim sebagai organisasi berbasis budaya, yang menembus batas agama. Menurut Anda, apakah organisasi ini sudah mampu menjalankan perannya tersebut?
I : Sebenarnya hal tersebut sangat susah. Swastika Taruna adalah organisasi yang berbasis budaya Bali. Sementara kita semua tahu kalau budaya Bali sendiri sangat terikat dengan agama Hindu. Jadi hal ini cukup menjadi semacam halangan bagi kami untuk menarik beberapa teman dari Bali yang non-Hindu.
W : Adakah upaya untuk lebih merangkul pelajar ataupun mahasiswa Bali yang beragama non-Hindu?
I : Upaya tersebut sudah dan akan terus kami usahakan. Secara informal, kami akan dekati mereka. Misalnya dalam beberapa acara Swastika Taruna, kami sering mengundang beberapa teman walaupun tidak secara resmi.
Kebangkitan Nasional
W : Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitan nasional pada tahun ini. Seperti apa Anda lihat dampak dari peristiwa tersebut bagi Indonesia sejauh ini?
I : Terdapat sedikit perbedaan kalau saya bagi menjadi jaman dulu dan jaman sekarang. Dulu, dengan lahirnya Budi Utomo, benar-benar muncul dampak bagi perjuangan bangsa Indonesia. Timbul semangat baru, utamanya di kalangan pemuda, dalam merebut kemerdekaan dengan jalan selain adu fisik. Seiring berjalannya waktu, muncul juga banyak organisasi yang kemudian memunculkan banyak tokoh-tokoh yang berperan penting bagi perjalanan Indonesia ini, hingga sekarang. Namun, jujur saja, semangat itu saya lihat mulai pudar. Ironisnya lagi, itu terjadi di kalangan pemuda sendiri. Mungkin ini merupakan pengaruh globalisasi yang salah satunya lebih menonjolkan sifat individualisme namun tidak diimbangi oleh rasa nasionalisme.
W : Menurut Anda, apa makna kebangkitan nasional yang seharusnya diresapi oleh bangsa ini?
I : Kita harus dapat mencontoh semangat yang mendasari tercetusnya kebangkitan nasional itu yaitu bangkit dari keterpurukan dan penjajahan dan menang di negeri sendiri. Tidak seperti sekarang dimana kita sepertinya terkepung oleh pihak asing. Bagus untuk bekerja sama dan membuka diri dengan bangsa-bangsa luar namun bukan berarti tunduk dan terjajah di negeri tercinta ini.
W : Sudah signifikankah peran pemuda dalam kehidupan bernegara ini?
I : Belum bisa dikatakan signifikan, walaupun peran pemuda cukup terlihat. Pemuda atau mahasiswa harus menjalankan perannya sebagai kontrol sosial ataupun melancarkan kritik dan saran bagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berkenan.
W : Bagaimana dengan peran pemuda Bali atau Hindu sendiri?
I : Wah kalau itu sangat sedikit, bahkan terlalu sedikit. Saya sebenarnya cukup miris melihat kenyataannya. Kebanyakan teman-teman Bali yang saya kenal, sangat individualis. Jarang memikirkan kepentingan masyarakat apalagi bangsa dan negara. Mungkin juga ini disebabkan oleh kondisi Bali sendiri yang sudah dirongrong oleh globalisasi tanpa mampu disaring. Namun, saya harapkan kondisi ini dapat berubah nanti. Negara ini sesungguhnya merupakan milik kita bersama, jadi sudah sepatutnya pula kalau kita pikirkan bersama.
W : Baik terima kasih atas waktunya. Apa pesan untuk pembaca Wiweka?
I : Teruslah semangat! Bagi pemuda Bali dan Hindu, jangan pupuk budaya ngekoh karena itu hanya akan membatasi perkembangan diri kita.
Biodata
Nama Lengkap : I Made Indra Wijaya
TTL : Denpasar, 20 Juli 1987
Riwayat Pendidikan :
SD 2 Ubung
SMP 5 Denpasar
SMUN 1 Mengwi
Teknik Elektro ITS
Pengalaman Organisasi :
Ketua Swastika Taruna 2007-2008
Ketua Divisi Artwork Himatektro ITS
Kepala Departemen Media dan Informasi TPKH – ITS
Anggota PC KMHDi Surabaya
Hobi : Baca komik, desain, fotografi
Wanita Indonesia Harus Lebih Mandiri
Kategori: Profil
Ramah, itu kesan pertama yang akan tertanam di benak orang yang baru mengenal sosok ini. Nia, begitu dia biasa dipanggil, selalu menunjukkan hal itu pada semua koleganya. Dapat dilihat juga dari sikapnya kalau Ning kelahiran Surabaya ini, memiliki sifat sabar. Bahkan konon dua sifat itulah yang membuat ia didaulat menjadi ketua UKKH Stiesia periode 2008-2009.
Pemilik nama lengkap I Gusti Ayu Komang Kurniati Wiraba ini memulai perjalanannya mengomandani UKKH Stiesia pada Januari silam. Kendati mengaku belum siap dari segi pengalaman, namun ternyata ia juga menyimpan sebuah cita-cita yang cukup besar bagi UKKH-nya.
Terkait Hari Kartini yang akan datang, mahasiswi semester IV Manajemen Stiesia ini juga ingin menyampaikan perspektifnya tentang bagaimana seharusnya wanita bersikap di jaman ini. Berdiri sejajar tanpa melupakan kodrat alias berperan ganda adalah tidak mustahil.
W(iweka) : Bagaimana rasanya menjabat sebagai ketua UKKH selama ini?
N(ia) : Ada tantangan tersendiri. Itu membuat saya merasa lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini juga dapat membuat saya menjadi seorang leader/pemimpin yang kebetulan sesuai dengan bidang saya yaitu manajemen.
W : Ada kendala berarti tidak selama menjalankan organisasi ini?
N : Banyak kendala dalam memimpin organisasi berbasis kerohanian yang minoritas di tanah Jawa. Salah satu yang paling besar adalah sedikitnya jumlah SDM yang ada dan kurangnya dukungan dari pihak birokrasi kampus.
W : Punya rencana program tertentu selama setahun kepengurusan?
N : Saya bercita-cita mengadakan Dharma Tula atau Dharma Canti pada saat Hari Raya Saraswati. Saya ingin menunjukkan pada pihak kampus bahwa kami (UKKH Stiesia, red) memang ada. Kendala terbesarnya sampai saat ini adalah pada sokongan dana. Namun kami akan terus berusaha mewujudkan hal tersebut.
W : Terkait Hari Kartini yang jatuh sebentar lagi, menurutmu wanita Indonesia sekarang seharusnya seperti apa?
N : Wanita Indonesia harus dapat menjadi lebih mandiri agar bisa sejajar dengan pria.
W : Bicara sedikit tentang masa depan, setelah lulus nanti, ingin membangun karir tidak? Kenapa?
N : Ya tentu saja. Saya ingin menjadi mandiri. Selain itu, saya pikir pembelajaran-pembelajaran yang akan dapat membuat wawasan saya menjadi semakin luas akan lebih bisa saya dapatkan dengan berkarir.
W : Jadi, Anda termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat bahwa wanita itu harus mengurus rumah tangga saja?
N : Saya tidak setuju. Wanita sesungguhnya memiliki kemampuan yang menurut saya sama dengan pria. Oleh karena itu, hak berkarir seharusnya tidak hanya dimonopoli oleh satu gender saja. Selain itu, saya juga tidak setuju apabila dikatakan karir dan rumah tangga tidak bisa berjalan bersama. Wanita punya potensi untuk dapat berperan ganda guna menjamin keduanya akan berjalan baik.
W : Misalnya Nia mendapatkan jodoh pria yang menganut sudut pandang seperti itu, bagaimana cara menghadapinya ?
N : Saya akan memberi pengertian dan keyakinan pada dia bahwa saya dapat membagi waktu antara keluarga dan karir.
W : Terakhir, ada pesan untuk pembaca Wiweka?
N : Kejarlah cita-citamu setinggi langit,
karena kamu berhak untuk itu. Jangan lupakan pula sosialisasi ke masyarakat dan amalkan ilmu yang telah kita dapatkan demi kebaikan masyarakat pula.(mei)
Mencari Jati Diri Dalam Berorganisasi
Kategori: ProfilTidak sulit mengenali sosok yang satu ini. Perawakannya yang tinggi kurus cukup membuat kita ngeh. Gaya bicaranya yang terkesan sering bercanda pun dapat membuat kita cepat akrab dengannya. Tapi jangan salah, di balik itu semua terdapat semangat belajar yang tinggi, semangat yang mungkin tidak semua orang miliki.
Itulah Komang Yudy Dharmawan, ketua PC KMHDI Surabaya periode 2007-2009. Lajang kelahiran 9 Agustus 1987 ini baru terpilih pada akhir tahun lalu. Saat ini ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Hang Tuah Fakultas Teknologi Kelautan Perikanan Jurusan Perikanan. Ternyata, selain di KMHDI, ia juga aktif di beberapa organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) dan Gerakan Anti Narkoba (Granat). Bagaimana ia menjalani itu semua? Kepada tim Wiweka, ia berbagi kisah untuk pembaca sekalian.
W(iweka) : Yudy, apa kesibukan Anda sekarang ini?
Y(udy) : Pastinya kuliah. Kemudian saya juga terjun di beberapa organisasi seperti KMHDI, Himapikani, dan Granat. Kadang-kadang saya juga menyempatkan diri ikut di klub olahraga.
W : Anda cukup aktif. Bagaimana Anda mengatur waktunya?
Y : Saya melihat skala prioritas. Mana yang lebih penting, itu yang saya dahulukan. Untuk saat ini, semua jadwal saya menyesuaikan dengan jadwal kuliah.
W : Apa yang menarik bagi Anda dari masing-masing organisasi tersebut?
Y : Di KMHDI, saya dapat dibimbing oleh orang-orang yang berkompeten, baik di bidang organisasi maupun agama. Juga karena sifatnya yang nasional, maka saya dapat menambah jaringan. Sementara di Granat, saya mendapat kesempatan berinteraksi dan bekerja sama dengan wakil-wakil kampus dari berbagai etnis. Saya belajar menghargai keanekaragaman disini. Untuk di Himapikani, saya merasa nyaman karena berinteraksi dengan orang-orang yang memang telah saya kenal dekat.
W : Apa manfaat yang sudah Anda rasakan dengan mengikuti semua itu?
Y : Di KMHDI, saya dapat bicara lebih banyak tentang organisasi dan agama. Menurut saya, kesadaran diri sangat perlu dibentengi apalagi saat ini saya berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya berbeda agama dengan saya. Saya juga dapat belajar menentukan sikap dan mengkondisikan diri pada saat tertentu. Sehingga nantinya, saya dapat memiliki tanggung jawab, kemampuan manajemen dan organisasi, selain agama. Di Granat, saya dapat memacu diri untuk lebih komunikatif di hadapan banyak orang dari golongan yang berbeda. Sementara di Himapikani, saya dapat lebih berkreasi untuk memacu prestasi di berbagai kegiatan kampus.
W : Sebagai seorang ketua yang baru terpilih, bagaimana Anda melihat organisasi KMHDI yang Anda pimpin?
Y : KMHDI sesungguhnya adalah organisasi besar yang tercetus dari kerjasama antara Swastika Taruna dan UKKH di kampus. Jadi sejarah ini seharusnya tidak akan pernah lepas dari benak kaum intelektual kita khususnya mahasiswa-mahasiswi. Organisasi ini memiliki cita-cita yang ideal dan besar untuk bisa bicara di tingkat nasional. Jujur, pada saat ini eksistensi KMHDI di intern dan ekstern bisa dibilang makin redup. Maka dari itu, beban untuk membangkitkan dan memulai lagi ikatan sejarah itu ada di pundak saya. Mari bersama-sama menyadari pentingnya Yadnya ini untuk bangkit bersama-sama ke depan agar Hindu tetap ada untuk selama-lamanya.
W : Kalau Anda lihat, kondisi mahasiswa Hindu sekarang seperti apa?
Y : Kondisi mahasiswa Hindu di Surabaya saat ini sesungguhnya grafik eksistensinya cenderung meningkat walaupun orientasi mereka sedikit mengalami perubahan. Perbedaan tersebut dilihat dari keaktifan mereka cenderung di kegiatan-kegiatan intern kampus akan tetapi mengalami kepasifan di organisasi ekstern salah satunya di KMHDI sendiri. Saya menyadari mungkin ini karena tuntutan kuliah sekarang sedikit berbeda dengan sebelumnya sehingga harus beradaptasi lebih baik lagi. Namun saya yakin pada kemampuan teman-teman Hindu disini bahwa mereka akan mampu untuk lebih memanage itu semua.
W : Ada pesan yang ingin disampaikan pada pembaca Wiweka?
Y : Mari kita bersama-sama membentengi diri dari kondisi yang semakin global. Tetap berusaha untuk eksis dalam beryadnya demi agama dan keyakinan kita kepada Ida Shang Hyang Widhi. Mari bekerjasama dan berkontribusi untuk membangun dan merealisasikan ide-ide yang konstruktif untuk kita bersama agar tercipta situasi yang kondusif demi Hindu di masa mendatang.(mei)
